ANAK-ANAK ELANG YANG BELAJAR MENGEPAKKAN SAYAP

Alkisah pada suatu ketika sebuah telur burung Elang jatuh dari sarangnya. Telur tersebut tidak pecah, dan secara tidak sengaja telur tersebut ikut dierami oleh seekor induk ayam bersama dengan telur-telur ayam lainnya. Ketika telur Elang menetas bersama dengan telur ayam yang lain,  si anak Elang tersebut menganggap induk ayam sebagai ibunya dan kemudian berperilaku seperti anak-anak ayam lainnya. Si anak elang menirukan cara para ayam berjalan, makan, berperilaku, persis seperti ayam. Suatu ketika saat si anak Elang beranjak dewasa, dia melihat ke atas langit dan melihat seekor Elang yang terbang dengan gagah dan indahnya di langit.

Si anak elang kemudian menemui si induk ayam dan mengatakan kepada si induk,
“Ibu, seaindainya aku seekor elang aku pasti bisa terbang tinggi dengan gagahnya seperti Elang yang tadi aku lihat.”
(dikutip dari “Awareness” karya Anthony de Mello SJ)

Kisah ini bagi saya sebagai pendamping merupakan pencerminan dan gambaran dari anak-anak yang akan kami dampingi dan kami, para  pendamping, ingin melanjutkan kisah ini bersama anak-anak. Si anak Elang yang beranjak dewasa kemudian melakukan perjalanan ke dalam hutan untuk mencari jawaban kenapa dirinya tidak bisa terbang seperti elang.

Di dalam hutan si anak elang menemui banyak binatang dan saling berbagi cerita serta kisah di sana. Dari setiap cerita yang didapat dan dibagi, si anak elang mendapatkan pencerahan akan jati dirinya, hingga ia menyadari sesungguhnya dirinya adalah elang. Dengan bantuan dan dukungan dari binatang-binatang yang ia temui serta keluarga ayamnya, si anak elang belajar untuk mengepakkan sayap nya dan terbang. Meskipun berkali-kali jatuh, namun si anak elang selalu mendapat dukungan dari para binatang yang lain serta dari keluarga ayamnya. Kekecewaan dan kegagalan yang dialami oleh si anak elang tidak membuat ia menyerah dan putus asa karena ia memiliki semangat dan selalu mendapatkan dukungan. Hingga akhirnya si anak elang berhasil terbang tinggi di angkasa sambil menitikkan air mata bahagia.

Kisah ini yang ingin kami jalin bersama dengan anak-anak. dimana anak-anak diajak untuk dapat menyadari talenta-talenta yang ada di dalam dirinya, bisa melihat dan menimbang pilihan-pilihan yang ada, serta bisa bertanggung jawab atas resiko pilihan-pilihan yang diambilnya. Kami juga ingin mengajak anak-anak untuk bisa mulai menemukan jati dirinya dan berkembang serta bermimpi setinggi-tingginya. Untuk meraih mimpi-mimpi tersebut, kami juga ingin mengajak-anak-anak untuk tidak hanya menerima dukungan saja, namun juga mulai bisa beperan menjadi pendukung bagi teman-teman maupun rekan-rekan di sekitarnya.

Oleh karena itu, kami menerapkan sikap yang tegas namun bersahabat karena diusia mereka yang berada di tahap peralihan dari anak-anak menunju remaja membuat mereka ingin diperlakukan seperti orang dewasa namun terkadang mereka masih memiliki sifat kekanak-kanakan.

Pada hari pertama, kami berusaha mengusung Tema “AKU” dan mengajak anak-anak untuk lebih memahami serta mengembangkan dirinya. Pada awal sesi pertemuan, anak-anak membawa sangat banyak keceriaan yang membuat kami cukup kewalahan. Namun, seiring berjalannya waktu dan kami berusaha untuk berbagi dan mengingatkan untuk saling menghargai, anak-anak pun mulai bisa saling menghargai dan menghargai kami.

Pada hari kedua, kami mengusung tema “AKU DAN TEMANKU”, dimana kami mengajak anak-anak untuk bisa lebih saling memahami dan berbagi dengan teman-temannya. Hal ini kami lakukan karena dalam proses penemuan jati diri dibutuhkan beberapa hal, diantaranya kesadaran dari luar dan pengetahuan akan dirinya yang dilihat melalui persepsi orang lain. Proses awal pada hari kedua ini, anak-anak masih sulit untuk menerima rekannya dan lebih menonjolkan keinginan-keinginan pribadinya. Seiring dengan berjalannya waktu dan melakukan training outdoor (Outbound), anak-anak mulai lebih bisa menerima dan mau memahami rekan-rekannya. Pada malam harinya, anak-anak diajak untuk dapat mengungkapkan perasaaan-perasaan terpendamnya kepada teman dan keluarganya.

Pada hari ketiga kami mengusung tema “AKU, TEMANKU & LINGKUNGANKU”, dimana lingkungan yang dimaksud adalah Sekolah, keluarga dan lingkungan di mana saat ini mereka berada. Anak-anak telihat semakin percaya diri dan mulai berkembang serta mulai bisa saling mendukung dan mengoptimalkan kemampuan yang mereka miliki. Saya pun secara tidak langsung ikut belajar melalui anak-anak yang kami damping, karena saya pun masih belejar untuk bisa terbang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi di angkasa. Seperti keceriaan yang selalu mereka miliki, kemauan dan keaktifan untuk selalu melangkah maju, mimpi-mimpi sederhana yang sebenarnya sungguh luar biasa, serta semangat yang tidak pernah habis. Kami pun belajar untuk mengatasi dan meluaskan kesabaran yang kami miliki, serta belajar untuk semakin memahami pola pikir dan keinginan dari anak-anak. Bagi saya, semua orang yang saya temui, siapapun itu, adalah guru terbaik dalam hidup saya.

Salam Bahagia

P. Narendra Utama, S.Psi.
Owner
UNISON Training & Outdoor Activity since 2008
085743231354

Editor: Samira Pelangi

 

« Back to Blog