Team Building Mudika-OUTBOUND JOGJA

team building di salatiga
Team Building and Outbound bersama Mudika Paroki Nanggulan

Kegiatan team building dan outbound bersama Mudika Paroki Nanggulan ini dilaksanakan di Wisma Pondok Remaja, Salib Putih, Salatiga.

Kegiatan yang dilaksanakan 2 hari dari tanggal 7-8 Februari 2015 ini diikuti oleh hampir 70 peserta. Dengan konsep yang sudah dipersiapkan dari team Unison, peserta diajak untuk membangun karakter mereka terutama dalam keakraban. Peserta yang masih didominasi oleh anak anak baru dan belum saling mengenal antar seluruh peserta ini dibantu oleh team Unison untuk berusaha saling membuka diri dan saling mengenal antar seluruh peserta.

Kegiatan pertama untuk membuka acara adalah dengan permainan helium stick, disini peserta diajak untuk saling membuka diri dan menyadari keegoisan masing masing pribadi. Selain kegiatan helium stick, peserta didampingi oleh fasilitator dari Unsion, diajak untuk melakukan tes kepribadian untuk mulai mengetahui tipe kepribadian dari masing masing peserta.

Kegiatan ini dilajutkan dihari kedua untuk kegiatan outdoor. Outdoor yang dilakukan adalah dengan kegiatan outbound dengan tema pandawa adventure. Kegiatan dilakukan secara bersama sama, dalam artian seluruh peserta yang dibagi menjadi 5 kelompok, melakukan kegiatan bersama sama dengan sistem kompetisi.

Gambaran umum kegiatan ini adalah untuk saling membuka diri dan mulai mengenal satu sama lain.

Outbound jogja – Team building jogja – Outbound di Jogja

Sejarah Outbound – Outbound jogja – outbond jogja

unison

Menilik dari sejarah, kata Outbound berasal dari Outward Bound. Istilah ini dimulai dari seorang pendidik Jerman bernama Kurt Hahn yang mendirikan sekolah dengan nama Gordonstoun School pada tahun 1930-an. Pada sekolah ini, siswa mendapat pendidikan tambahan di luar ruangan dengan tujuan mengembangkan ketrampilan, kemampuan fisik, menyelaraskan dengan alam dan pengalaman hidup. Selanjutnya pada tahun 1940-an, Sir Lawrenceholt, pemilik Blue Funnel Ship tertarik dengan konsep yang dikembangkan Kurt Hahn, dan menerapkannya kepada kru kapal (ABK) agar mampu bertahan dalam kondisi terberat di lautan.

Pada akhirnya program ini berkembang sampai masa kini dan mendunia, karena diyakini program ini mampu membuat pesertanya mempelajari dan mengasah ketrampilan lama  maupun baru dengan efektif. Hal ini dikarenakan ketrampilan yang dipelajari melalui pengalaman nyata akan lebih mudah diingat.

Outward Bound pada akhirnya masuk Indonesia melalui pendirian Outward Bound  Indonesia. Kemungkinan karena ”lidah” orang Indonesia sulit untuk melafalkan Outward Bound, atau karena Outward Bound sendiri merupakan sebuah nama yang sudah dipatenkan, sehingga orang-orang menyingkatnya menjadi menjadi Outbound, dan sampai sekarang istilah Outbound-lah yang lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.

Pada tahun – tahun berikutnya (1980) seorang ahli bernama David A. Kolb mengemukakan ELT (Experiential Learning Theory). Secara umum, teori ini menyatakan bahwa seseorang membangun pengetahuan dan ketrampilan melalui pengalaman langsung yang dialaminya. Kolb sendiri mengemukakan teori ini berdasarkan ahli-ahli Psikologi seperti Kurt Lewin, Dewey, dan Piaget.

Pada awalnya, Outbound dan Experiential Learning (khususnya di Indonesia) memang identik dengan kegiatan luar ruangan yang cenderung melibatkan banyak aktivitas fisik dan beresiko tinggi, seperti Flying Fox, Trust Fall, dan lainnya. Hal ini karena pada mulanya Outward Bound memang digunakan untuk menyiapkan para Kru Kapal (ABK) menghadapi situasi paling berbahaya di lautan lepas. Seiring berjalannya waktu dan perubahan jaman, jenis aktivitas/ media pembelajaran Outbound dan Experiential Learning mulai berubah, tidak melulu menggunakan aktivitas fisik beresiko tinggi, tetapi juga menggunakan aktivitas fisik beresiko rendah tanpa mengurangi tujuan dari permainan/ aktivitas itu sendiri, bahkan menggunakan kegiatan tanpa aktivitas fisik dan lebih menggunakan aktivitas mental & pikiran (logika berpikir).

Sedangkan kegiatan Experiential Learning sendiri dapat dilakukan di luar ruangan maupun di dalam ruangan, tergantung daritarget aktivitas, metode, karakter peserta, kultur perusahaan, dan aspek lainnya.

Jika dilihat dari sisi metode pembelajarannya, Experiential Learning di luar ruangan mempunyai kemiripan dengan Outward Bound versi Kahn. Hal ini yang mungkin menyebabkan istilah di Indonesia untuk aktivitas ini sedikit tumpang tindih.

Para penggiat Outbound Indonesia cenderung untuk menggunakan istilah (penggiat) Experiential Learning karena metode yang digunakan adalah Experiential Learning dari Kolb. Pemilihan istilah Experiential Learning juga dikarenakan istilah Outbound sendiri tidakada di dalam kamus Bahasa Indonesia, dan nama Outward Bound yang telah dipatenkan. Namun istilah outbound masih sering digunakan mengingat banyak orang hanya paham dengan istilah ini.

Ada banyak istilah yang digunakan untuk menggantikan Outbound, seperti Outdoor Training, Adventure, dan istilah lainnya. Kami sendiri lebih menyukai menggunakan istilah Outdoor Activity/ Outdoor Training/ Outdoor Fun Games dengan metode pembelajaran Experiential Learning.

(penulis UNISON dari berbagai sumber)

Outbound jogja – Team building jogja – Outbound di Jogja

Fasilitator Outbound dan Team Building Training-outbound jogja

Model Debriefing  oleh Fasilitator (Roger Greenaway)

1.Merangkai pertanyaan untuk menghasilkan arah dan aliran percakapan belajar yang tepat

2. Menjaga agar semua peserta terlibat dalam debriefing pada kelompok.

“bisa menggunakan pola “1-2-semua”
– 1= memeberi kesempatan peserta untuk berpikir sendir, menulis, atau mebuat pernyaataan secara singkat
– 2= berbicara secara berpasangan
– semua= diskusi kelompok menyeluruh

Pola tersebut dapat dibolak-balik seperti menjadi “semua-2-1” akan lebih baik ketika di akhir ada diskusi kelompok kembali, atau pola dibuat menjadi “1-2-semua-2-1”

Hal ini berkaitan dengan pola interaksi bukan isi

3.Menangkap irama & perubahan peserta

Fasilitator harus bisa melihat suasana peserta dan menyesuaikan materi/kegiatan dengan irama peserta.

4. Mengajukan pertanyaan terfokus

Ibarat menggunakan “Corong” yang diberi filter dan berfokus pada tiap tahap (Priest & Gass, 1997, h.196)

6 filter tersebut adalah:
1. Mengulas
2. mengenang dan mengingat
3. mempengaruhi & memwujudkan
4. merangkum
5. menerapkan
6. berkomitmen

Saran Thiagi, untuk mengajukan pertanyaan dapat mengikuti pola dari pertanyaan terbuka menuju pertanyaan menyelidik dari masing-masing tahapannya.:
“Bagaimana perasaan anada?” “Apa yang terjadi?” “Bagaimana jika?” “Apa berikutnya?”
(Thiagarajan & Thiagarajan, 1999, h.37-47)

5. Terus menjalin hubungan dengan motivasi peserta

Seperti pada riak air, keinginan belajar haruslah menjadi pusat dari riak tersebut dan riak kedua adalah kebutuhan untuk belajar.riak berikutnya adalah tindakan, pemaknaan, umpan balik, pelatihan, pemahaman. Kita harus selalu meinjau riak utama (pertama) yaitu keinginan untuk belajar. Ketika tidak ada riak awal/utama maka riak yang lain akan menghilang.

Jika mengikuti siklus dengan terlalu kaku, proses pembelajaran menjadi terpecah-pecah disamping kehilangan kontak dengan hati

6. Mengakui pentingnya apa yang dialami peserta selama debrief

Kualitas pengalaman selama pembekalan/training juga berdampak signifikan terhadap motivasi peserta.
Hal ini juga bisa berdampak signifikan terhadap pembelajaran dan perkembangan mereka:
Pengalaman yang di debriefkan dan pengalaman dari debrief itu sendiri adalah sumber bagi pembelajaran dan perkembangan.

7. Membantu menjaga proses pembelajaran tetap bergerak.

Fasilitator harus meperhatikan faktor apa yang akan berhenti berputar (seperti kita sedang memutar banyak piring, piring mana dulu yang akan berhenti berputar harus segera kita putar kembali) Piring yang sangat mungkin jatuh berkutnya adalah keinginan untuk belajar, tetapi bisa piring yang lain, dan ini terus berubah.

8. Bekerjasama dengan seluruh orang di sepanjang debriefing

9. Mencegah pendekatan rutin terhadap fenomena yang dinamis

(UNISON – Sumber: Roger Greenaway)

Outbound jogja – Team building jogja – Outbound di Jogja